Kamis, 12 Agustus 2010

Meniti jalan menuju mati syahid..

Kisah Pedih Anak-anak Yatim Irak dari Sudut-sudut BaghdadNov 24, '08 5:26 AM
for everyone


Hampir tidak ada, ilustrasi kebahagiaan tentang anak-anak di Irak.
Kekerasan dan perang selama bertahun-tahun,
telah merenggut masa depan indah yang seharusnya mereka miliki.
Mereka dipaksa bekerja di pasar-pasar, meninggalkan sekolah,
demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mereka, anak-anak yatim, berjumlah jutaan di Irak.
Kebanyakan mereka lebih memilih jalanan
sebagai tempat tinggal sekaligus mengais rizki.

Mari dengar catatan pedih seorang anak bernama Shalih (11). Dunia penderitaan baginya berawal saat mendapati tubuh ayahnya terkapar akibat sebuah bom meledak di rumah makan tempat ayahnya bekerja. Sang ibu, lalu berkata padanya, “Nak, kamu harus tinggalkan bangku sekolah. Kita tidak mempunyai pilihan lain.“ Awalnya, Shalih mencoba menjawab dengan mengatakan, “Bu, nilai matematikaku nomor satu di sekolah.“ Tapi jawaban itu tak membuat ibunya senang. Keadaan akhirnya memaksa Shalih bekerja di sebuah pabrik pengolah rumput yang tak jauh dari rumahnya, guna menambah penghasilan. Meski masih kanak-kanak, Shalih adalah anak tertua di antara tiga adik-adiknya yang sama sekali tak mungkin diminta bekerja.
Menurut Shalih, awalnya ia sangat suka bekerja di pabrik itu. Ia baru mendapatkan musibah sangat berat, saat atasan pabrik tempatnya bekerja melakukan pelecehan seksual kepadanya. Shalih takut menyampaikan prihal itu pada ibunya, sampai akhirnya ada juga salah seorang buruh yang menyampaikannya.“Aku tidak mau kembali ke tempat itu lagi, dan bekerja sebagai penjual rokok di jalan-jalan Baghdad. Aku berdo’a siangmalam agar Allah menolong keluargaku dan mengangkatku dari jalanan agar bisa duduk di bangku sekolah kembali. Dalam keadaan seperti ini, tak ada yang bisa diharapkan kecuali Allah swt...“ ujarnya lirih.   
Kisah derita anak-anak jalanan di Baghdad,  umumnya hadir dari mereka yang keluarganya  sudah tidak utuh, baik karena satu atau kedua orang tua mereka sudah tiada. Mereka terpaksa menapaki panas di siang hari, meninggalkan bangku sekolah, untuk mengais rezeki. Menurut Unicef, saat ini diperkirakan lebih dari 20% anak-anak di Irak berhenti sekolah. Sekitar 220 ribu dari mereka ada yang terpaksa bekerja dan ada pula yang dibawa keluarganya ke tempat yang dianggap lebih aman sehingga tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Derita Yatim Piatu Irak
            Ada kelompok anak-anak yang lebih menderita lagi. Yakni mereka yang memang sudah tidak mempunyai orang tua. Itu dialami oleh Fadhel Muhammad Riyad. Usianya masih 10 tahun. Ia, satu dari ratusan ribu anak-anak Irak yang kehilangan kedua orang tuanya. Ya, Fadhel adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dalam tragedi pilu yang menimpa banyak di berbagai daerah di Irak, sejak tentara AS menghujaninya dengan peluru dan bom sejak bulan Maret 2003, dan rangkaian kekerasan yang tak berhenti.
Riyad kini ditampung di yayasan pemelihara anak-anak yatim. Ia mengatakan, “Beberapa tahun lalu lalu, ayahku meninggal karena ledakan di tengah kota Baghdad. Setelah itu, semua orang meninggalkanku dan adik perempuanku yang masih kecil. Kami tidak mendapatkan ada orang yang merawat kami.”  Meski masih anak-anak, luka kehidupan yang mendera Riyad, membuatnya sulit untuk menggerakkan bibirnya.           Dengan air mata menitik dan bibir gemetar menahan tangis, Riyad mengatakan,”Kami sebenarnya mempunyai saudara-saudara dalam keluarga. Tapi mereka semua tidak mau menerima dan mengurus kami. Mereka memaksa kami untuk bekerja sendiri untuk mencari makan.”  Tapi menurutnya, kehidupan di rumah penampungan anak yatim juga bukanlah kehidupan yang enak. Ia justru mengatakan telah menerima perlakuan yang menyakitkan dari para petugas di rumah penampungan tersebut. “Hidupku di sini tidak mudah. Hampir semua orang yang bertugas di sini, sikapnya kasar,” ujar Riyad.
Anak-anak Irak, adalah sama nasibnya seperti warga sipil Irak pada umumnya. Mereka adalah korban dari kekerasan perang tanpa alasan. Juga korban, karena sikap diam kaum Muslimin di berbagai negara dunia dengan kezaliman yang terus terjadi. Karakter kejam dan model pembunuhan keji di Irak dijelaskan dampaknya oleh pakar sosial Irak Haedar Hasan Karim, “Irak mempunyai banyak karakter akibat tragedi ini. Kekerasan di Irak bisa bermotif kekerasan antar etnik, peperangan melawan pendudukan AS, prilaku tradisional sejumlah penduduk Irak dan juga pembunuhan karena motif kelaparan untuk mencari uang.“  Kini, kekhawatiran sudah merebak hebat terkait masa depan anak-anak. Menurut Haedar, “Mayoritas anak-anak Irak akan tumbuh besar dalam trauma dan tekanan rasa takut dalam pikiran mereka. Anak-anak menderita karena mereka bagian dari skenario yang terjadi di Irak. Mereka tak bisa bertemu dengan orang tua mereka. Dan sekarang  mereka terpaksa hidup di sejumlah tempat yang sama sekali tak membuat jiwa mereka tenang.“
Seorang anak Irak lain, Hamid Abdussatar namanya. Dalam usianya yang masih 9 tahun, ia juga sudah ditinggal mati kedua orang tuanya akibat kekerasan hebat di Irak. Hamid menjadi gelandangan yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, demi mencari sesuap nasi yang bisa mengisi perutnya dan juga perut adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun. “Ayahku meninggal saat peperangan. Ibuku meninggal tujuh bulan setelah ayahku meninggal, akibat ledakan bom,“ ujar Hamid. Hamid lebih menderita ketimbang Riyad, karena ia tidak mengetahui di mana keluarga yang bisa ditemuinya. Riyad bahkan mengaku berulangkali terpaksa mencuri untuk mendapatkan uang sekedar membeli kue yang kemudian menjadi modal baginya untuk berjualan setiap hari. “Aku tahu apa yang saya lakukan itu dilarang. Tapi aku lakukan itu untuk bisa makan. Aku yakin Allah akan mengampuni dosaku. Aku lebih kuat menahan lapar, demi memberi makan adik perempuanku. Nanti bila aku menjadi orang kaya, aku akan peduli menolong anak-anak yatim Irak…” urai Hamid.
Bukan Sekedar Masalah Lapar
Persoalannya, problem berat yang dihadapi anak-anak yatim Irak di jalan-jalan, tak sekedar masalah lapar. Yang mungkin lebih menyiksa batin dan tubuh mereka adalah, karena mereka kerap menjadi target pelecehan seksual dari orang-orang tak bertanggung jawab. Itulah yang dialami Shalih, dan juga Hamid. Hamid mengatakan, adik perempuannya yang masih kecil pernah nyaris direnggut keperawanannya. Saat menceritakan hal itu, Hamid tertunduk memejamkan matanya karena tidak kuat mengucapkannya lagi. Setelah beberapa lama ia hanya mengatakan, “Aku…. berusaha menolongnya untuk bisa lari, dan akibatnya akulah yang menjadi korban kejahatan mereka…”
Selebihnya, Hamid Abdussatar lebih memilih hidup di jalanan ketimbang di rumah penampungan anak yatim piatu yang ada di Baghdad. Ia mengisahkan, dirinya dan adiknya pernah tinggal beberapa lama di penampungan itu, namun tidak kuat menahan derita. “Para pengurus membenci kami dan memperlakukan kami seperti binatang. Makanan yang kami terima adalah makanan yang sudah basi,” ujar Hamid. Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak kuat lagi melihat adik perempuannya menderita di rumah yatim. Itulah yang menyebabkan akhirnya Hamid memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan mencari tempat yang lebih nyaman baginya. Jalanan, menjadi tempat pilihannya ketimbang harus menderita di rumah penampungan yatim.
Aset Generasi yang Nyaris Hilang
Beberapa waktu lalu, Unicef mengeluarkan laporannya tentang kondisi anak-anak di Irak paska Maret 2003. Disebutkan bahwa jumlah pekerja anak-anak di bawah usia 11 tahun di Irak mewakili 14% dari jumlah total dengan lama bekerja rata-rata 10 jam setiap hari. Mereka bekerja karena tekanan ekonomi, karena banyaknya orang dewasa yang menganggur dan banyaknya para janda yang kehilangan penyangga materi rumah tangganya. Tentang jumlah anak-anak yang bekerja, pihak Unicef mengatakan masih sulit menjelaskan jumlahnya. Terlebih angka itu semakin lama diperkirakan cepat meningkat drastis.  
Anak-anak benar-benar menjadi korban kekejian perang di Irak. Dalam salah satu unit operasi AS di Barat Laut Baghdad di markas Al Hanaan, pada bulan Juni 2007 ditemukan lebih dari 20 mayat anak-anak dalam kondisi telanjang setelah dijadikan objek kekerasan seksual. Petinggi markas militer AS tidak menafikanhal itu. Ia hanya berdalih bahwa pelakunya bukanlah para tentara AS yang bertugas di sana.
Sementara itu, berdasarkan sensus Kementerian Pekerjaan Sosial Irak, jumlah anak yatim di Irak berkisar 4,5 juta orang anak. Sekitar 70% dari mereka adalah anak-anak yang menyandang yatim akibat kekerasan yang terjadi di Irak paska kehadiran pasukan AS. Masih menurut Kementrian Pekerjaan Sosial Irak, ada 6000 anak kecil di Irak yang tidak mempunyai tempat tinggal kecuali di jalan-jalan. Mereka anak-anak yang melewati siang dengan mencari makan minum, kemudian beristirahat beratapkan langit di malam harinya. Mereka biasanya memilih tempat peristirahatan yang diyakini jauh dari pantauan orang-orang bersenjata. Sedangkan jumlah anak-anak yatim yang ada di sekitar 18 rumah penampungan di seluruh Irak, hanya berkisar 700 orang saja. Kondisi merekapun di penampungan, sangat memerlukan bantuan yang primer bagi hidup mereka.
Seorang relawan Palang Merah Irak mengatakan, bahwa karena kondisi sangat prihatin, anggaran yang dialokasikan khusus untuk menolong anak-anak jalanan dan anak yatim, terus menerus ditunda hingga batas yang tak ditentukan. Yang parah lagi, tak ada lembaga atau yayasan luar yang menangani masalah yatim ini. Semua rumah penampungan berasal dari pemerintah Irak.
Anak-anak adalah aset paling mahal dan paling terbesar yang menentukan wajah masa depan sebuah generasi. Tapi di Irak kini, modal paling mahal itu nyaris hilang.
M. Lili Nur Aulia (tarbawi islamic magazine)
Prev: Apakah Kita Merasakan Apa yang Mereka Rasakan?
Next: Kenangan yang Menghasilkan Renungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merapi Meletus Empat Kali

Kondisi puncak Gunung Merapi terus mengeluarkan asap solfatara saat terekam dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/10/2010). Selain asap solfatara yang terus keluar juga terjadi peningkatan guguran material vulkanik berupa batuan berasap yang disertai suara gemuruh. TERKAIT: * Warga Merintih Terkena Awan Panas * Dua Korban Awan Panas Merapi Dievakuasi * Awan Panas Meluncur ke Arah Timur * Hujan Abu Vulkanik di Lereng Selatan * Desa Ngipiksari Dipenuhi Abu Setelah dinyatakan berstatus "Awas" sejak Senin kemarin, Gunung Merapi akhirnya memulai fase erupsi, Selasa (26/10/2010) sore. Luncuran awan panas atau yang biasa disebut wedhus gembel, terjadi hingga empat kali. Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), menyebutkan awan panas pertama terjadi pada pukul 17.02 dan lebih mengarah ke barat. Luncuran kedua terjadi pada pukul 17.19, 17.24, dan 17.34. Namun, pantauan luncuran-luncuran berikut itu tidak bisa terpantau karena terhalang kabut tebal dan diduga tersebar ke segala arah. Hingga pukul 18.33, awan panas terus meluncur dan alat seismograf di kantor BPPTK masih terus mencatat pergerakan awan panas. BPPTK pun memerintahkan seluruh petugas di lima pos pemantau gunung Merapi untuk turun dan mengevakuasi diri pada pukul 18.05. Pada saat bersamaan, terdengar 3 kali letusan besar dari pos Jrakah dan Selo di Magelang.